Dia berkeliling menjual cilok disekitaran pasar Suryakencana Bogor. Cilok seharga 500-an itu ia jajakan perbungkus isi 10 yang ia tenteng didalam keranjang kecil.

Saya mengamatinya berjalan sambil terus menawarkan jualannya kepada orang-orang yang lalu lalang ia temui. Sambil tersenyum. Sambil mengucap salam. Meski saya amati tak seorangpun yang membeli tapi ia tetap tersenyum.

Saya tahu ada gurat lelah dan khawatir diwajahnya yang coba ia tutupi dengan senyumannya, tapi saya masih bisa melihatnya saat ia berhenti disamping penjual jeruk. Lalu saya keluar dari mobil dan mendekatinya. Ia menyapa saya dengan ucapan salam dan senyum yang ramah sambil menawarkan dagangannya.

Lalu saya bertanya, ada berapa banyak lagi yang belum terjual. Ia dengan segera menghitungnya sambil menjawab, baru terjual 2-3 bungkus saja bu. Ini masih banyak. Setelah dihitung ternyata masih ada 17 bungkus. Saya taksir ia membawa 20 bungkus dan laku 3 bungkus.

Akhirnya saya meminta tolong kepada beliau. "Pak, boleh saya meminta tolong? Saya mau menitipkan sedekah melalui bapak. Bapak tolong berikan kepada mereka yang membutuhkan. Saya yakin bapak lebih tahu dibandingkan saya. Disekitar sini siapa yang membutuhkan cilok bapak"

Lalu dengan raut bahagia ia berkata: Alhamdulilah ya Allah..terima kasih ibu. Dengan senang hati saya akan berikan kepada yang membutuhkan. 
Dan sayapun berkata: justru sayalah yang berterima kasih karena bapak sudah membantu memudahkan saya bersedekah. Meskipun tak seberapa.

Lalu sayapun menyerahkan uang untuk membeli semua ciloknya. Saya pamit, si bapakpun pamit. Mau sholat ke masjid sekaligus membagikan cilok katanya. Ia menyalami saya dengan menelungkupkan kedua tangannya didepan dadanya. Dan menyalami suami saya. Menjabat tangannya erat sambil mengucapkan doa-doa.

Saya menuju ke sebuah toko bersama suami. Saya masih memilih barang keperluan dapur dibagian depan toko saat sibapak tersebut lewat didepan toko tempat saya berbelanja. Meski saya bisa melihatnya, tapi sibapak tak bisa melihat saya karena terhalang etalase toko.

Dati celah etalase, Saya melihat ada seorang perempuan muda menghentikannya, ingin membeli ciloknya. Saya masih mendengarnya dengan sangat jelas suara sibapak ini. Beliau berkata: Mohon maaf ibu, ini sudah laku semua. Dan saya dititipi untuk memberikan ini kepada yang berhak. Mohon maaf. Lalu iapun pergi. Dan saya melihatnya memberikan sebungkus cilok kepada pemulung yang tengah memilah botol air minum digundukan sampah yang baunya tercium hingga ke dalam toko. Dalam hati saya berucap; Alhamdulilah, masih banyak orang jujur dinegara ini. Dan sayapun mendoakannya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan untuk beliau mencari nafkah bagi keluarganya dengan cara yang halal, berjualan. Semoga Allah limpahkan keberkahan atas rezeki yang didapatkannya sehingga kebutuhan hidupnya tercukupi.

Yang saya pelajari dari beliau adalah aklak yang baik itu mendatangkan kebaikan. Siapapun kamu, akhlak muliamu akan menuntunmu pada rezeki Allah yang tak ternilai, persaudaraan.

Mari bantu para pedagang kecil disekitar kita dengan membeli dagangannya. Ingat, jangan menawarnya apalagi dengan "sadis". Karena bayangkan saja apa yang bisa ia lakukan dengan omzet 100rb/hari. Belum modal membuat ciloknya. Penghasilannya pasti hanya sekitar 50rb-an saja/hari. Itupun jika dagangannya terjual semua. Bagaimana jika tidak?

Ayuk share ajakan kebaikan dan berita baik!

https://web.facebook.com/photo.php?fbid=1159942647423498&set=a.125449784206128.32766.100002233222702&type=3&theater

Share this...
Share on Facebook13Tweet about this on Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published.